DEPOSTJABAR. COM (TASIKMALAYA).- Atasi inflasi di Kota Tasikmalaya masuk babak baru, TPID Kota Tasikmalaya tak lagi main aman. Kali ini, Tasikmalaya menggandeng Kabupaten Blitar dalam Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk mengatasi gejolak harga pangan.
Langkah ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Tasikmalaya sudah terbukti jadi barisan terdepan pengendalian inflasi dan diganjar TPID Awards 2025. Prestasi itu bikin Kabupaten Blitar datang berguru langsung, ingin mengetahui strategi Tasikmalaya menjaga harga tetap stabil.
Hasilnya dua Pimpinan Kota dan Kabupaten sepakat KAD ditandatangani oleh Walikota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, S.T., M.B.A., bersama Bupati Blitar Drs. H. Rijanto, M.M. Disaksikan Wakil Bupati, Ketua DPRD Blitar, dan Ketua DPRD Tasikmalaya, komitmen ini benar-benar all-in
Kenapa harus Blitar, Karena Blitar adalah lumbung telur ayam nasional dengan produksi gila-gilaan ±432 ton per hari. Selain telur, Blitar juga gudangnya cabai rawit, belimbing, pisang Cavendish, nanas Banasari, dan melon. Artinya, pasokan pangan strategis langsung dikunci dari sumbernya. Ditambah Blitar punya koperasi dan BUMD dengan tata kelola rapi, jadi kerja sama ini bukan wacana, tapi siap tancap gas ke lapangan!
Inflasi Tasikmalaya Mei 2026 masih aman di 2,82% yoy, di dalam target nasional. Daya beli rakyat terjaga, roda ekonomi tetap muter. Tapi TPID tahu betul, inflasi pangan bukan urusan satu daerah. Kalau distribusi macet, pasokan putus, harga langsung meledak. Makanya KAD ini jadi senjata pamungkas untuk memperkuat rantai pasok, menjaga stabilitas harga, dan memastikan pangan murah tetap sampai ke meja rakyat.
“Inflasi kita tekan, harga kita jaga, rakyat kita lindungi. Kerja sama ini bukan seremoni, ini perang nyata melawan kenaikan harga!” tegas jajaran TPID Tasikmalaya.
Ke depan, model Tasikmalaya–Blitar ini ditarget jadi blueprint kolaborasi antardaerah se-Priangan Timur. Bank Indonesia Tasikmalaya bersama TPID akan terus mengawal, memantau harga harian, dan menghajar setiap potensi gejolak sebelum jadi krisis, “pungkasnya. (M.Kris)






