DEPOSTJABAR.COM (CIMAHI).- Ancaman krisis sampah di Bandung Raya semakin nyata. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang selama ini menjadi penopang pembuangan sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat dipastikan akan mencapai batas kapasitasnya dalam beberapa bulan ke depan.
Fakta mengejutkan itu terungkap saat Komisi III DPRD Kota Cimahi melakukan kunjungan kerja ke TPA Sarimukti pada Rabu (24/06/2026).
Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cimahi, Rika, bersama anggota Komisi III yakni Enang Sahri, Rini Marthini, Warman, dan Mochamad Nofit.
Rombongan diterima langsung Kepala Regional Persampahan Jawa Barat, Arief, beserta jajarannya.
Turut hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini, Sekretaris Dinas, dan Kepala Bidang Persampahan.
Kunjungan dilakukan menyusul banyaknya keluhan masyarakat Kota Cimahi terkait penumpukan sampah yang belum terangkut selama lebih dari sepekan di sejumlah wilayah.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cimahi menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.
“Kami menerima banyak pengaduan dari masyarakat. Sampah sudah menggunung di beberapa titik karena belum terangkut. Karena itu kami ingin melihat langsung kondisi TPA Sarimukti saat ini,” ujar Rika,
Lebih lanjut menurut Rika menjelaskan bahwa, kita harus menyadari bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama. Karena itu mari mulai memilah sampah dari rumah dengan baik dan benar.
Sarimukti Over Kapasitas, Tinggal Hitungan Bulan
Dalam pemaparannya, Kepala Regional Persampahan Jawa Barat, Arief, mengungkapkan bahwa TPA Sarimukti saat ini sudah mengalami kondisi over kapasitas.
Menurutnya, TPA Sarimukti memiliki lima zona pembuangan. Namun zona 1 hingga zona 4 sudah lama ditutup karena penuh.
Saat ini operasional hanya mengandalkan Zona 5 yang kondisinya juga sudah kritis.
“Zona 5 diperkirakan hanya mampu bertahan sampai 22 Oktober 2026. Setelah itu sudah tidak bisa lagi menerima sampah,” ungkap Arief.
Setiap hari, TPA Sarimukti menerima lebih dari 1.500 ton sampah dari wilayah Bandung Raya. Dalam satu bulan, volume sampah yang masuk ke Zona 5 mencapai sekitar 45.000 ton.
Jika tidak segera ditemukan solusi, TPA Sarimukti terancam tidak mampu lagi menampung sampah dari empat daerah tersebut.
Pemprov Jabar Cari Jalan Keluar
Untuk mengatasi kondisi darurat tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak swasta, termasuk beberapa pabrik semen.
Rencananya, pihak swasta akan membangun fasilitas pengolahan sampah yang dapat mengurangi beban penumpukan di Zona 5.
Selain itu, solusi jangka pendek yang sedang dipersiapkan adalah melakukan penguraian dan penataan ulang tumpukan sampah di Zona 5 dengan cara menggeser material sampah ke sisi kanan dan kiri area pembuangan.
Namun langkah tersebut membutuhkan alat berat tambahan yang harus disewa dari pihak ketiga dengan kebutuhan anggaran yang tidak sedikit.
“Mudah-mudahan langkah ini bisa memperpanjang usia operasional Zona 5 sambil menunggu solusi permanen,” kata Arief.
Cimahi Produksi 285 Ton Sampah per Hari
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini yang akrab dipanggil Rini, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terganggunya pelayanan pengangkutan sampah.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena adanya pembatasan kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti.
Anggota Komisi III DPRD Kota Cimahi, Enang Sahri Lukmansyah, menjelaskan bahwa produksi sampah Kota Cimahi saat ini mencapai sekitar 285 ton per hari.
Namun TPA Sarimukti hanya mampu menerima sekitar 119 ton sampah per hari dari Kota Cimahi.
Artinya terdapat sekitar 166 ton sampah per hari yang harus ditangani melalui berbagai fasilitas pengolahan lokal seperti TPST Santiong, TPS3R, dan fasilitas lainnya.
“Dari jumlah itu sekitar 80 ton dapat diolah. Namun masih ada sisa lebih dari 80 ton per hari yang berpotensi menumpuk apabila tidak segera ditangani,” jelas Enang.
DPRD Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah
Menghadapi ancaman darurat sampah tersebut, Enang Sahri mengajak seluruh masyarakat Cimahi untuk ikut berperan aktif mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya.
Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga.
“Sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga. Rata-rata warga Cimahi menghasilkan sekitar 0,5 kilogram sampah per hari. Jika bisa dikurangi menjadi 0,3 kilogram per hari per orang, dampaknya akan sangat signifikan,” ujarnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah.
Ke depan, sistem pengangkutan sampah juga harus dilakukan secara terpisah sehingga sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur saat diangkut.
“Bila perlu, sampah yang tidak dipilah dari rumah tidak diangkut. Ini menjadi salah satu solusi yang harus kita lakukan bersama,” tegasnya. (Bagdja)





