Kisah Sewu Dino, Bagian 25

DEPOSTJABAR.COM,- Ia tidak lagi sekamar dengan Dini, hanya ada jendela yang ditutup gorden, di sana, Mbah Tamin mengatakannya, “Nek was jam 12, lawang kamarmu ojok lali di tutup, ojok sampe mok bukak yo, pesenku iku tok (Kalau sudah jam 12, pintu kamarmu jangan dibuka, jangan sampai kamu membukanya, ingat pesanku ini, tegas Mbah Tamin lalu berlalu).”

Sri membuka gordin jendelanya. Ia merasakan bahwa keberadaannya di sini tidak ada bedanya dengan keberadaannya di alas itu. Entah kenapa, tempat ini sama saja. Seperti memintanya menguak apa yang ada disini.

Hingga akhirnya ia melihat Dela baru saja melewati kamarnya, menatapnya lalu menghilang dengan senyuman yang memancing keingintahuan.

Sri sudah mengunci pintu kamar dan jendelanya. Kini, ia berbaring di atas kasur tua yang setiap ia bergerak mengeluarkan suara tidak mengenakan. Hanya dengan menatap cahaya lilin di meja, ia merasa aman. Selebihnya, ia terjaga dan tidak bisa tidur dengan banyak sekali pertanyaaan di pikirannya.

Waktu terasa begitu lambat. Setiap ketukan detik yang Sri bayangkan terasa mengambang dalam sepi di kamar itu. Lalu, terdengar suara lirih. Suara yang membuat Sri merasa tidak sendirian lagi. Suara itu, terdengar dari luar kamar.

 “Mbak Sriiii.. ini aku Dela,” mendengar itu, Sri langsung tercekat. Entah apa suara itu, seakan sebuah ancaman bagi Sri.

 “Mbak samoun tilen, niki aku Dela mbak, di bukak lawange mbak (Mbaknya sudah tidur ini aku Dela, mbak, dibuka dulu pintunya mbak).”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *