DEPOSTJABAR.COM (TASIKMALAYA).- Baru dicek, langsung ketahuan. Screening kesehatan gratis untuk karyawan dan staf BPBD Kabupaten Tasikmalaya membongkar kondisi yang bikin merinding. Di balik seragam dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, tubuh para penjaga ini diam-diam digerogoti penyakit gaya hidup.
Mayoritas peserta alami kolesterol tinggi dan asam urat yang sudah melewati batas aman. Padahal mereka adalah garda depan yang dituntut selalu siap tempur saat bencana datang. Evakuasi banjir, distribusi logistik saat longsor, hingga siaga 24 jam ketika gempa mengguncang, semua butuh fisik prima. Faktanya, tubuh mereka justru rapuh dari dalam.
Kepala Tim Kesehatan Dede Subekti tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan fungsi paru digelar langsung di kantor BPBD agar tidak mengganggu jadwal siaga.
“Ini parah. Kolesterol dan asam urat tinggi ada di hampir semua hasil cek. Kalau dibiarkan, tubuh mereka bisa ambruk sebelum sempat menyelamatkan warga. Gaya hidup dan pola makan berantakan jadi biang keroknya,†katanya, Senin (18/05/2026)
Pola makan tinggi lemak, minim sayur, jam kerja tidak teratur, dan kurang olahraga jadi kombinasi mematikan. Banyak petugas makan mie instan, gorengan, dan minuman manis karena tuntutan dinas mendadak. Istirahat pun sering terpotong saat ada kejadian darurat tengah malam.
Peserta dengan hasil merah langsung dirujuk ke puskesmas. Mereka yang kolesterolnya di atas 240 mg/dL dan asam urat di atas 7 mg/dL diberi edukasi khusus. Tanpa penanganan, risiko serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal mengintai.
“Penyakit gaya hidup ini diam-diam merusak dari dalam. Tidak ada gejala di awal, tapi sekali meledak dampaknya fatal. Bayangkan kalau petugas kolaps saat evakuasi. Yang ingin ditolong jadi tidak tertolong,†ujar Dede.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya H. Roni Aks menyebut temuan ini sebagai alarm keras. Ia berjanji akan mengevaluasi pola konsumsi di kantor dan mewajibkan olahraga rutin bagi seluruh staf.
“Kita sering fokus ke logistik dan alat, tapi lupa kesiapan fisik SDM. Ke depan akan ada jadwal olahraga bersama, pembatasan makanan tinggi lemak, dan pemeriksaan berkala,†katanya. Dinkes berharap kasus ini jadi pelajaran bagi instansi lain. Kalau penjaga bencana saja bisa tumbang karena kolesterol dan asam urat, bagaimana dengan masyarakat yang mereka lindungi. (M. Kris






