7E untuk Hidup Berdampak: Rahasia Sukses Edi Permadi

Oleh: Imran Ramdani (Alumni UI dan mantan Vale-Inco)

“Kesuksesan yang tidak dilandasi oleh etika tidak akan bertahan lama. Integritas adalah fondasi yang membuat segala sesuatu kokoh berdiri.”

Kalimat tersebut menggema dalam sebuah acara peluncuran buku “Direktur Di Usia 29 Tahun” karya Edi Permadi di Sekolah Master Indonesia-Depok, 1 Juni 2026. Di depan para tokoh nasional, akademisi, dan sahabat, seorang anak veteran yang dulu berjualan kacang keliling di sekitar Manggarai, kini bercerita.

Namanya Edi Permadi. Saat ini, beliau menjabat sebagai Presiden Direktur PT J Resources Asia Pasifik Tbk, sebuah perusahaan tambang emas yang mengoperasikan tambang di Bolaang Mongondow hingga Malaysia dengan produksi mencapai lebih dari 101.000 ons emas pada tahun 2024.

Sebagai rekan sesama alumni Universitas Indonesia (Edi:Teknik Elektro angkatan 1994) dan juga pernah berkecimpung di dunia pertambangan melalui PT Vale-Inco (dulu PT Inco), saya merasa terpanggil untuk menuliskan refleksi ini. Perjalanan Edi Permadi dari seorang mahasiswa yang membiayai kuliahnya dari hasil menjadi guru les dan tukang servis alat elektronik, hingga mencapai puncak karier sebagai direktur utama di usia yang belum genap 30 tahun, adalah sebuah narasi yang luar biasa. Namun, yang lebih menakjubkan dari perjalanan kariernya bukan sekadar cepatnya ia mencapai posisi, melainkan fundamental value system yang ia pegang teguh: Konsep Sukses 7E.

Dalam dunia yang sering memuja pencapaian materi semata, konsep 7E hadir sebagai paradigma segar tentang how to win the right way. Konsep ini terdiri dari tujuh nilai utama: Ethos (etos kerja), Effectiveness (efektivitas), Efficiency (efisiensi), Empathy (empati), Ethics (etika), Eling(mengingat Allah SWT), dan Emak (keberkahan dan doa ibu).

Tulisan ini akan mengajak Anda menyelami setiap nilai ini dengan perspektif yang utuh: perpaduan antara spiritualitas Islam, ilmu manajemen modern, dan kebijaksanaan hidup. Kami akan mengutip Al-Qur’an, Hadis, buku fenomenal The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness karya Stephen R. Covey, serta teori Organization Effectiveness dari Elliott Jaques. Sebagai seorang yang pernah merasakan atmosfer tambang di Sulawesi (Vale-Inco), saya tahu betapa kerasnya dunia pertambangan. Namun, Edi Permadi membuktikan bahwa nilai-nilai luhur justru menjadi tameng dan pendorong di tengah medan yang paling berat sekalipun.


Value #1: Ethos – Fondasi Kerja yang Bertasbih

“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.’” (QS. At-Taubah: 105)

Nilai pertama yang dipegang Edi Permadi adalah Ethos, sebuah karakter dan semangat mendalam yang menggerakkan seseorang untuk bekerja secara maksimal. Edi sendiri meyakini bahwa “Keberhasilan tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui kerja keras yang dilakukan secara konsisten.”

Dalam literatur manajemen modern, Stephen R. Covey memperkenalkan konsep “find your voice” – menemukan suara hati dan panggilan jiwa, lalu “inspire others to find theirs.” Covey berargumen bahwa untuk mencapai greatness, seseorang harus menggerakkan empat dimensi dirinya: pikiran (mind), hati (heart), fisik (body), dan jiwa (spirit). Inilah esensi etos kerja – mengerahkan seluruh kecerdasan intelektual dan spiritual dalam setiap aktivitas.

Dalam perspektif Islam, etos kerja dipahami sebagai bentuk ibadah. Seorang Muslim diajarkan untuk bekerja dengan itqan (melakukan pekerjaan secara profesional hingga mencapai standar ideal), al-ihsan (melakukan yang terbaik), dan al-mujahadah (bekerja keras serta optimal). Inilah makna QS. Al-Muddassir ayat 7: “Wa lirabbika fashbir” – “Dan hanya karena Tuhanmu, maka bersabarlah.” Kesabaran dalam bekerja dengan kualitas tertinggi adalah bagian dari ketundukan kepada-Nya.

Relevansi Praktis: Ketika Anda menekuni profesi dengan niat ibadah dan komitmen pada keunggulan, Anda tidak hanya membangun karier, tetapi juga membangun amal jariyah. Edi Permadi membuktikan bahwa etos kerja yang tinggi, yang dimulai dari berjualan kacang hingga menjadi direktur utama, adalah kunci membuka pintu kesuksesan. Sebagai alumni UI dan mantan pekerja tambang, saya melihat sendiri bahwa tidak ada yang instan di dunia ini – hanya mereka yang mau bekerja keras dengan orientasi akhirat yang akan benar-benar berdiri kokoh.


Value #2: Effectiveness – Melakukan Hal yang Tepat (Doing the Right Things)

Effectiveness adalah tentang memastikan bahwa apa yang kita kerjakan benar-benar membawa kita pada tujuan akhir yang dikehendaki. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya sibuk, tetapi produktif secara strategis.

Dalam bukunya Requisite Organization, Elliott Jaques mendefinisikan requisite organization sebagai sistem yang dirancang untuk menyelesaikan pekerjaan dengan efektif dalam menghasilkan barang dan jasa yang bernilai guna memenuhi kebutuhan publik, sekaligus mencapai hasil yang positif bagi bisnis melalui spesialisasi fungsi dalam hierarki akuntabilitas manajerial. Jaques percaya bahwa efektivitas organisasi secara langsung dipengaruhi oleh pembangunan hirarki akuntabilitas manajerial dengan jumlah tingkat yang tepat, serta ditempati oleh orang-orang yang tingkat kompleksitas pemrosesan mentalnya sesuai dengan tingkat manajerial tersebut.

Stephen Covey melengkapi konsep ini dengan kebiasaan ke-2 dan ke-3 dalam bukunya: “Begin with the End in Mind” dan “Put First Things First.” Orang yang efektif memulai dengan visi yang jelas tentang kemana ia melangkah, kemudian memprioritaskan apa yang paling penting (kuadran II), bukan sekadar yang paling mendesak.

Dalam konteks seorang Muslim, efektivitas harus diukur dengan dua parameter: falah (keberhasilan hakiki di dunia dan akhirat) dan mardhatillah (keridhaan Allah). Al-Qur’an mengingatkan: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Edi Permadi, dengan latar belakang insinyur, dikenal selalu membuat keputusan berbasis data dan analisis matang. Namun, ia tidak pernah kehilangan orientasi bahwa efektivitas tertinggi adalah ketika kerja memberikan dampak positif bagi perusahaan, karyawan, dan bangsa. Ia bahkan dipercaya menjadi Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, sebuah bukti bahwa efektivitas personalnya melampaui tembok kantor.


Value #3: Efficiency – Melakukan Hal dengan Cara yang Bijak (Doing Things Right)

Jika efektivitas berbicara tentang arah (the right things), maka efisiensi berbicara tentang cara(doing things right). Efisiensi berarti mencapai output maksimal dengan input minimal – waktu, tenaga, sumber daya – tanpa mengurangi kualitas dan keberkahan.

Al-Qur’an secara tegas mengajarkan prinsip anti-pemborosan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 26-27: “Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” Lebih lanjut, dalam QS. Al-A’raf ayat 31: “Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan.” Prinsip wasath (tengah-tengah) dan tawazun (keseimbangan) menjadi landasan efisiensi dalam Islam.

Dalam teori organisasi, Elliott Jaques memperkenalkan konsep strata of work (tingkatan kerja) di mana setiap tingkat memiliki time-horizon dan kompleksitas yang berbeda. Menempatkan orang dengan kapasitas yang tepat pada tingkat tanggung jawab yang tepat adalah bentuk efisiensi tertinggi yang tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga membebaskan imajinasi dan membangun kepercayaan dalam bekerja.

Dalam praktik bisnis modern, efisiensi adalah tentang eliminasi muda (pemborosan) – apakah itu waktu tunggu, kelebihan produksi, atau gerakan yang tidak perlu. Namun, seorang Muslim tidak berhenti di efisiensi material semata. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim tidak boleh disengat dari lubang yang sama dua kali.” (HR. Ahmad). Ini adalah seruan untuk efisiensi pembelajaran: belajar dari kesalahan, memperbaiki proses, dan tidak mengulang pemborosan yang sama.

Edi Permadi, dalam mengelola perusahaan tambang emas yang dinamis, dituntut untuk efisien dalam mengelola sumber daya alam dan biaya operasional. Namun ia tetap menyeimbangkannya dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial. J Resources dikenal meraih penghargaan Good Mining Practice dan predikat Hijau dalam pengelolaan lingkungan hidup, membuktikan bahwa efisiensi tidak harus mengorbankan ekologi dan masyarakat.


Value #4: Empathy – Menghidupkan Hati yang Peduli

Pada nilai keempat, Empathy, Edi Permadi menunjukkan sisi humanisnya. Dalam acara peluncuran buku, Budi Santoso, Ketua Umum IAGI, memuji: “Cara beliau membawa diri, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan berbagai pihak sangat humanis. Saya bahkan sempat berpikir tidak mungkin ini seorang engineer.” Ini adalah pujian yang mendalam – bahwa seorang direktur utama perusahaan tambang memiliki kerendahan hati dan kepekaan terhadap orang lain.

Empati dalam Islam disebut ta’aththuf atau rahmah. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Dalam buku The 8th Habit, Covey mengakui bahwa efektivitas yang sesungguhnya terwujud ketika seorang pemimpin tidak hanya mengelola sistem, tetapi juga memanusiakan hubungan kerja. Covey menulis: “In any management role you need to focus on the four roles of the leader (modelling, pathfinding, aligning goals and systems for results, and empowering).” Keempat fungsi kepemimpinan ini hanya akan berjalan optimal jika didasari oleh empati yang tulus.

Dalam konteks organisasi, Elliott Jaques menekankan pentingnya release of human imagination, trust, and satisfaction in work sebagai komponen kunci dari organisasi yang efektif. Tanpa empati, kepercayaan tidak akan lahir. Tanpa kepercayaan, imajinasi manusia tidak akan pernah dilepaskan secara produktif.

Edi Permadi membuktikan bahwa empati adalah aset strategis. Ia memadukan kompetensi teknis seorang engineer dengan kemampuan membangun komunikasi yang humanis. Dalam setiap negosiasi dan diskusi, ia mengedepankan hubungan personal yang baik di samping perhitungan yang matang. Inilah bentuk kepemimpinan yang melampaui sekadar rasio – yaitu kepemimpinan hati.


Value #5: Ethics – Integritas adalah Mahkota Kesuksesan

Nilai kelima, Ethics, adalah fondasi yang membuat kesuksesan menjadi bertahan lama. Edi Permadi sendiri menyatakan: “Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Karena itu, integritas harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil.”

Al-Qur’an berulang kali memerintahkan kejujuran dan keadilan. QS. Al-Maidah ayat 8 dengan tegas menyatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa.”

Dalam hal perkataan dan tindakan, QS. Al-Ahzab ayat 70 memerintahkan: “Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” Sementara itu, hadis yang masyhur menyebutkan bahwa pekerja yang terbaik adalah yang melaksanakan tugas dengan jujur dan amanah.

Dalam literatur manajemen modern, Stephen Covey menempatkan integritas sebagai fondasi dari *Habit 4: Think Win-Win*. Covey menulis bahwa Think Win-Win harus digerakkan oleh integritas, kedewasaan (keberanian dan pertimbangan), dan pola pikir berkelimpahan (abundance mentality). Tanpa integritas, segala bentuk negosiasi dan kerja sama akan runtuh karena ketiadaan kepercayaan.

Elliott Jaques juga menyiratkan bahwa organisasi yang requisite (memadai) harus dibangun di atas kepercayaan dan akuntabilitas. Ketika akuntabilitas ditegakkan dengan transparansi dan kejujuran, maka bottom line yang positif dan kepuasan publik akan tercapai.

Dalam karier Edi Permadi, integritas ini diakui oleh mentor dan koleganya. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang menulis kata pengantar buku Edi, mengatakan bahwa keberhasilan sejati dibangun melalui ketekunan, kedisiplinan, keberanian dalam mengemban tanggung jawab, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang. Ini adalah pernyataan dari aparat tertinggi penegak hukum, yang membuktikan bahwa reputasi Edi sebagai pribadi berintegritas tidak diragukan.


Value #6: Eling – Mengingat Allah SWT dalam Setiap Langkah

Eling dalam bahasa Jawa berarti sadar, ingat, dan waspada. Dalam konsep 7E Edi Permadi, Eling diartikan sebagai “mengingat Tuhan Yang Maha Esa.” Bagi seorang Muslim, ini adalah inti dari taqwa – kesadaran bahwa Allah SWT selalu melihat, mendengar, dan menyertai hamba-Nya di manapun ia berada.

Al-Qur’an dengan indah menyatakan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ini adalah ayat yang fundamental: ketenangan hati – sumber energi spiritual yang tak terbatas – hanya bisa diraih melalui dzikrullah.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman: “Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan ketika bibirnya menyebut nama-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya bagaikan orang hidup dengan orang mati.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Konsep Eling ini memiliki resonansi yang mendalam dengan ajaran Stephen Covey tentang dimensi spirit (jiwa) dalam diri manusia. Covey berargumen bahwa untuk mencapai kebesaran, manusia tidak bisa hanya mengandalkan pikiran dan fisik, tetapi harus memberi ruang pada kebutuhan spiritual: meaning and contribution, to leave a legacy.

Bagi seorang pebisnis atau profesional, Eling adalah penjaga dari sikap sombong dan lalai. Ketika laba melimpah, Eling mengingatkan bahwa semua berasal dari Allah. Ketika menghadapi kegagalan, Eling mengingatkan bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang Allah. Ketika mengambil keputusan bisnis, Eling mengingatkan bahwa setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Edi Permadi adalah sosok yang membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi direktur utama perusahaan publik, bergaul dengan para pemangku kepentingan kelas kakap, tetapi tetap rendah hati dan sadar akan kehadiran Allah dalam setiap langkahnya. Kesaksian Adjat Sudrajat, mantan Jaksa Agung Muda Intelijen, yang melihat Edi datang dengan penampilan sederhana “kurus dan menggendong ransel” – padahal saat itu ia sudah menjabat direktur di INCO – adalah bukti nyata bahwa Eling melahirkan kesederhanaan dan ketulusan, bukan kemewahan dan kesombongan. Sebagai sesama alumni UI dan mantan pekerja di lingkungan tambang, saya tahu betapa langka sikap seperti ini. Biasanya, jabatan tinggi membuat orang berubah. Edi justru sebaliknya.


Value #7: Emak – Keberkahan dan Doa Ibu sebagai Pendulang Sukses Hakiki

Nilai ketujuh, Emak atau ibu, adalah nilai yang paling unik, paling membumi, namun paling spiritual. Edi Permadi menyatakan dengan penuh keyakinan: “Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Restu dan keberkahan orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penting yang mendukung perjalanan hidup seseorang. Saya percaya bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga hasil dari doa, dukungan, dan pengorbanan orang tua yang selalu menyertai langkah kita.”

Dalam ajaran Islam, posisi ibu sangatlah istimewa. Dalam sebuah hadis yang masyhur, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Sahabat bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ditanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Kemudian sahabat bertanya keempat kalinya, barulah beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keistimewaan ibu juga tercermin dalam firman Allah QS. Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali(mu).”

Lebih dari sekadar perintah berbakti, doa ibu memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga macam doa yang pasti diterima tanpa ragu lagi, yaitu doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang teraniaya.”

Dalam literatur manajemen modern, Stephen Covey dan Elliott Jaques mungkin tidak secara eksplisit membahas peran ibu dalam efektivitas organisasi. Namun, Covey dengan cemerlang menjelaskan bahwa keberhasilan tidak bisa dipisahkan dari hubungan yang sehat dan kepercayaan yang mendalam. Jika seorang anak memiliki hubungan yang penuh kasih dan restu dari orang tuanya – terutama ibu – maka ia akan membawa energi psikologis dan spiritual yang sangat besar ke dalam kariernya.

Elliott Jaques, dalam teorinya tentang requisite organization, menyebutkan release of human imagination, trust, and satisfaction in work sebagai komponen penting dari efektivitas organisasi. Tidak ada trust yang lebih mendasar daripada kepercayaan yang dibangun seorang anak dari dekapan dan doa ibunya. Kepercayaan inilah yang kemudian menjadi modal psikologis (psychological capital) yang memampukan seorang profesional untuk mengambil risiko terukur, memimpin tim, dan melayani stakeholder dengan hati yang tenang.

Kisah hidup Edi Permadi adalah bukti hidup dari kekuatan doa ibu. Sebagai anak seorang veteran yang harus membantu perekonomian keluarga sejak dini, ia tidak memiliki akses kemudahan. Namun, restu dan doa orang tuanya – terutama ibunya – menjadi “energi tersembunyi” yang membawanya dari berjualan kacang keliling hingga menjadi direktur utama perusahaan tambang emas. Jelas terlintas dalam ingatan sebagai rekan kerja di lingkungan pertambangan, saya menyaksikan sendiri bagaimana nilai “Emak” ini bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dihidupi.


Refleksi: Konsep 7E sebagai Paradigma Sukses Integral

Tulisan ini telah mengupas konsep 7E dari Edi Permadi – seorang profesional yang berhasil memadukan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dalam sebuah kerja yang utuh.

Kita memulai dengan Ethos, fondasi karakter yang membuat pekerjaan bernilai ibadah. Kita melanjutkan dengan Effectiveness dan Efficiency, dua sisi mata uang yang memastikan bahwa kerja kita terarah dan hemat sumber daya. Kita diperkaya dengan Empathy, kepekaan hati yang membangun hubungan manusiawi. Kita ditegakkan dengan Ethics, mahkota integritas yang membuat kesuksesan bertahan lama. Kita diingatkan dengan Eling, kesadaran vertikal kepada Allah SWT yang menjaga kita dari kelalaian dan kesombongan. Dan kita mendapat berkah dari Emak, kekuatan doa dan restu ibu yang menjadi sumber energi tak kasat mata namun paling fundamental.

Dalam dunia yang semakin materialistis dan sekuler, konsep 7E adalah oase yang menyegarkan. Ini bukan sekadar “tips and tricks” meraih kekayaan atau jabatan. Ini adalah sebuah way of life yang mengintegrasikan kerja dan ibadah, strategi dan spiritualitas, efisiensi dan empati, kesuksesan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda – para pembaca yang budiman – untuk merenungkan: Di mana posisi Anda dalam ketujuh nilai ini? Sudahkah Anda membangun etos kerja yang kuat? Sudahkah Anda bekerja secara efektif dan efisien? Sudahkah Anda menumbuhkan empati dalam kepemimpinan Anda? Sudahkah Anda menjunjung tinggi integritas? Sudahkah Anda selalu ingat kepada Allah? Dan sudahkah Anda memohon doa dan restu dari ibu Anda?

Mari kita jadikan konsep 7E sebagai kompas perjalanan profesional dan spiritual kita. Seperti yang dikatakan Edi Permadi: “Saya hanya ingin berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses yang saya jalani selama ini. Jika ada manfaat yang dapat dipetik oleh generasi muda maupun para profesional dari kisah yang saya tuliskan, maka tujuan telah tercapai.”

Semoga Allah SWT memberkahi langkah kita, meridhai setiap kerja keras kita, dan menempatkan kita di antara hamba-hamba-Nya yang sukses dunia akhirat. Aamiin.


Demikianlah konsep 7E yang diusung oleh Edi Permadi, seorang direktur utama yang membuktikan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dengan angka, tetapi dengan ketulusan, integritas, dan keberkahan. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, baik sebagai profesional, pemimpin, maupun sebagai anak yang selalu merindukan doa ibunda tercinta.

Wallahu a’lam bish-shawab.



Deprecated: str_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /var/www/html/wp-content/plugins/newkarma-core/lib/relatedpost.php on line 627