DEPOSTJABAR.COM (MAJALENGKA).- Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah bersama jajaran struktural dan unsur pembinaan kegiatan kerja melakukan peninjauan langsung ke area ketahanan pangan di lingkungan lembaga tersebut, pada Sabtu (06/06/2026).
Fokus utama pengawasan kali ini adalah lahan produktif yang dikembangkan secara inovatif dengan memanfaatkan jalur pengamanan atau area brandgang.
Kehadiran Kalapas serta jajaran struktural dan Giatja ini tiada lain untuk memantau perkembangan pelaksanaan program pembinaan kemandirian yang dijalankan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Langkah ini menjadi bukti nyata upaya Lapas Majalengka mendukung program ketahanan pangan nasional.
Area yang semula hanya berfungsi sebagai jalur pengawasan keamanan dan zona steril, kini berhasil diubah menjadi tempat budidaya yang produktif.
Pengawasan ketat dilakukan agar seluruh kegiatan tetap sesuai standar keamanan tanpa mengganggu produktivitas warga binaan.
Momen peninjauan tersebut berlangsung istimewa karena sekaligus dirangkaikan dengan kegiatan panen hasil budidaya.
Kalapas beserta rombongan turut terlibat memanen hasil kerja keras warga binaan, yang berhasil menghasilkan 36 kilogram ikan lele segar dan 65 butir telur puyuh.
“Alhamdulillah, hari ini warga binaan Lapas Kelas IIB Majalengka memanen hasil usaha budidaya ikan lele dan ternak puyuh. Meskipun hanya memanfaatkan lahan yang terbatas dan seadanya, mereka berhasil menghasilkan 36 kilogram ikan lele hidup serta 65 butir telur puyuh. Untuk saat ini, hasil panen tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan,” ungkap Kalapas Majalengka, Rian Firmansyah.
Ia menambahkan, pencapaian ini membuktikan ketekunan warga binaan dalam mengembangkan sektor perikanan dan peternakan meski dengan keterbatasan ruang.
Program ini juga merupakan wujud nyata dukungan Lapas Majalengka terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam membangun kemandirian bangsa melalui sektor pangan.
Selain itu, kegiatan ini selaras dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan guna menjadikan lembaga pemasyarakatan sebagai institusi yang produktif.
“Keberhasilan ini tidak hanya dinilai dari jumlah hasil panen, tetapi dampaknya bagi proses pembinaan. Melalui program kemandirian ini, warga binaan dibekali keterampilan praktis yang akan menjadi modal penting agar mereka mampu mandiri secara ekonomi saat kembali berintegrasi di masyarakat kelak,” pungkas Rian. (Ast)






