Kisah Sewu Dino, Bagian 23

DEPOSTJABAR.COM,- Entah tempat seperti apalagi, Sri merasa ia sedang dipersiapkan untuk sesuatu. Sesuatu yang lebih besar.  Ketika Sri sedang mempersiapkan perbekalan yang akan ia bawa. Sri melihat Dini di luar pintu kamar, tempat ia beristirahat sebentar sebelum perjalanan berikutnya. Entah apa yang dilakukan Dini, membuat Sri akhirnya mendekatinya dan mempertanyakan apakah ada yang ingin dia sampaikan.

Wajah Dini pun tidak tertebak sama sekali. Namun, setelah dirasa ia cukup menahan diri, Dini berujar dengan suara gemetar. “Siji takan kene, sing bakal urip sampe iki mari, Sri sapurane nak aku bakal ngelakoni opo ae ben isok tetap urip (Satu dari kita yang akan tetap bertahan hidup sampai semua ini selesai, saya minta maaf, saya akan melakukan apapun untuk tetap bertahan hidup).”

Ucapan Dini membuat Sri kebingungan. Apa yang ia ucapkan, darimana ia dengar. Setelah Sri menanyakan itu, Dini menunjukan telinga cacat dan berujar dengan nada yang lebih percaya diri.

“Sak durunge kupingku pedot, Dela mbisiki aku, siji sing bakal selamet kanggo kembang klitih (sebelum telingaku putus, Dela membisikkan sesuatu kepadaku, satu dari kita yang akan selamat untuk berbagi sari bunga dari sisa santet ini).”

Sebuah mobil hitam yang Sri kenal barusaha masuk ke kediaman Atmojo. Sugih melangkah keluar. Sri dan Dini pun melangkah masuk. Setelah berpamitan dengan mbah Krasa, Sugih pun mengantar Sri dan Dini menuju tempat dimana Dela sekarang berada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

200 komentar