Kisah Sewu Dino, Bagian 17

DEPOSTJABAR.COM,- Yang Sri yakini sebuah pesan, “Sewu Dinone cah iki, kari ngitung areng (seribu harinya anak ini hanya tinggal menunggu bara api padam/kiasan hitungan jawa: waktu).”

Erna yang mendengar itu lantas langsung sadar dengan lamunannya, “He, golek cah iku, bengi ndedet ngene, gendeng koen (apa, cari anak itu, malam petang seperti ini, gila ya kamu).”

Sri yang mendengar itu, mendekati Erna, “Awakmu gak paham ta posisine, yo opo nek wong tuwek iku eroh (kamu itu masih belum paham posisi kita ya, gimana kala orang itu tahu).” Sebelum Erna menjawab pertanyaan itu, ia membanting boneka itu, kemudian bertanya dengan nada keras. “TEROS IKI OPO, SOPO SING NDUWE BARANG NGENE, AWAKMU KAN (LALI INI PUNYA SIAPA, SIAPA YANG PUNYA, INI PUNYAMU KAN).”

Sri terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Erna.  Ia tidak tahu menahu, dan bilang memang karena benda itu semua ini terjadi, artinya, memang dialah penyebab semua ini.  Sri berucap, “Jogo Dini, biar tak cari cah iku (tolong jaga Dini, biar aku yang cari anak itu).“

Sri mengambl satu lampu petromax, ia merasakan hembusan angin dingin yang langsung menusuk tulang. Berbekal lampu petromax di tangan, Sri berlari entah kemana, mengikuti jalan setapak, berharap ia masih bisa mengejar Dela yang bisa dimana saja.  Ia tidak tahu seluk beluk hutan ini.

Sejauh mata memandang, hanya bayangan pohon, dan kabut tebal yang Sri seringkali temui. Sisanya, hanya ada suara gemerisik kakinya menembus semak belukar yang terkadang menggores kulitnya. Selain itu, hembusan nafas Sri lebih berat, karena ketakutan sudah menemani sejak ia keluar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

96 komentar